Tapak dara. Anda tentu sudah sangat akrab dengan tumbuhan ini. Tumbuhan
yang sangat banyak kita jumpai hidup secara liar di pekarangan rumah.
Tumbuhan yang memiliki bunga indah ini, ternyata punya khasiat yang
tidak kalah “indah”. Tapak dara mengandung dua senyawa penting,
vinkristin dan vinblastin. Dua senyawa tersebut memiliki sifat
anti-kanker yang poten. Beberapa waktu lalu saat saya di poliklinik,
saya sempat ngobrol dengan salah satu pasien Leukemia. Kebetulan pasien
ini menderita chronic myelomonocytic leukemia (CML). Dulu
pasien ini mengaku keadaannya sangat buruk. Wajahnya pucat, mual, muntah
dan sering pingsan. Tapi beliau bersyukur, setelah mendapat terapi
injeksi vinkristin dan vinblastin, keadaannya sekarang sudah sangat
membaik.
Negara-negara barat sedang memburu tapak dara untuk mengisolasi dua
senyawa tersebut. Saat ini dunia masih sangat kekurangan suplai
vinkristin dan vinblastin, sehingga harganya bisa melangit. Harga 1 mg
vinkristin saja bisa mencapai USD 1,64-7,4. Sedangkan harga vinblastin
bahkan bisa mencapai USD 79,95. Hal ini merupakan sebuah peluang
industri bagi Indonesia, mengingat Indonesia memiliki sumberdaya alam
hayati yang melimpah ruah. Sebagai negara dengan kekayaan hayati 3 besar
di dunia harusnya Indonesia dapat mengambil peluang ini. Indonesia
dapat menjadi produsen vinkristin dan vinblastin no 1 di dunia.
Yang dapat bangsa ini lakukan adalah:
1. Budidaya Tapak Dara
Budidaya tapak dara harus dilakukan dengan intensif untuk meningkatkan
angka keberhasilan program ini. Program yang dijalankan
setengah-setengah tentu akan memiliki resiko kegagalan yang tinggi,
masih ingat kasus LPG? Bangsa ini butuh para petani yang memiliki jiwa
Enterpreneur, jiwa seorang Risk Taker. Mereka berani mengambil peluang
untuk membudidayakan tapak dara, dengan resiko kegagalan panen dan paska
panen yang menyertainya. Selama ini tapak dara masih tumbuh secara
liar. Belum ada program budidaya yang dilakukan di negri ini. Untuk
mengurangi resiko gagal pemasaran, maka harus dibentuk sebuah sistem
kerjasama antara petani dan koperasi unit desa (KUD). Perjanjian yang
dibuat adalah petani menyediakan produk tapak dara dan KUD membeli
dengan harga yang laya. KUD disini hanya berperan mediator antara petani
dan Industri.
2. Penelitian
Penelitian intensif terhadap proses produksi vinkristin dan vinblastin
yang lebih efisien harus dilakukan. Hal tersebut bermanfaat untuk
menjaga kualitas daya saing produk kita dengan produk luar negri.
Efisien atau mati, demikian semboyan 3 idot^^ Dengan demikian, para
peneliti dari berbagai bidang wajib dirangkul untuk mensukseskan program
ini. Kita punya banyak ilmuan yang tersebar di seluruh dunia. Sediakan
saja infrastruktur yang memadai. Saya yakin mereka akan segera kembali
ke tanah air ini.
3. Industri Farmasi
Kesediaan Industri Farmasi untuk ambil bagian dalam mensukseskan program
ini akan jadi kunci. Kita memiliki banyak Industri farmasi yang
berkualitas, sebut saja Kalbe Farma, industri farmasi yang konsisten
berinovasi dengan pengembangan produk herbal. Kerja sama dengan Industri
Nasional akan semakin meningkatkan mutu produk, terutama bentuk sediaan
yang lebih efektif untuk melawan leukimia.
4. Pemerintah
Semoga pemerintah dapat membaca artikel ini (mimpi kali ye…) sehingga
dukungan dari mereka yang ada di atas mutlak diperlukan untuk
pelaksanaan program ini secara total. Departemen pertanian dibutuhkan
untuk meningkatkan produksi bahan mentah (tapak dara) sedangkan
Departemen Kesehatan penting untuk proses distribusi paska produksi.
Rekomendasi penggunaan vinkristin dan vinblastin secara klinik di
Puskesmas atau Rumah sakit Indonesia akan mengokohkan market share pada
awal pengembangan produk ini.
Demikian sedikit khayalan saya melihat Indonesia dapat menajdi negara
produsen vinkristin dan vinblastin no.1 di dunia. semoga bermanfaat.
Salam sehat lahir dan batin^^
No comments:
Post a Comment